;

Senin, 18 April 2011

Bukti Bukti Kebiadaban Tentara Amerika

Senin, 18 April 2011


Collateral Murder
Update: On July 6, 2010, Private Bradley Manning, a 22 year old intelligence analyst with the United States Army in Baghdad, was charged with disclosing this video (after allegedly speaking to an unfaithful journalist). The whistleblower behind the Pentagon Papers, Daniel Ellsberg, has called Mr. Manning a 'hero'. He is currently imprisoned in Kuwait. The Apache crew and those behind the cover up depicted in the video have yet to be charged. To assist Private Manning, please see bradleymanning.org.


5th April 2010 10:44 EST WikiLeaks has released a classified US military video depicting the indiscriminate slaying of over a dozen people in the Iraqi suburb of New Baghdad -- including two Reuters news staff.


Reuters has been trying to obtain the video through the Freedom of Information Act, without success since the time of the attack. The video, shot from an Apache helicopter gun-sight, clearly shows the unprovoked slaying of a wounded Reuters employee and his rescuers. Two young children involved in the rescue were also seriously wounded.


The military did not reveal how the Reuters staff were killed, and stated that they did not know how the children were injured.

After demands by Reuters, the incident was investigated and the U.S. military concluded that the actions of the soldiers were in accordance with the law of armed conflict and its own "Rules of Engagement".

Consequently, WikiLeaks has released the classified Rules of Engagement for 2006, 2007 and 2008, revealing these rules before, during, and after the killings.

WikiLeaks has released both the original 38 minutes video and a shorter version with an initial analysis. Subtitles have been added to both versions from the radio transmissions.

WikiLeaks obtained this video as well as supporting documents from a number of military whistleblowers. WikiLeaks goes to great lengths to verify the authenticity of the information it receives. We have analyzed the information about this incident from a variety of source material. We have spoken to witnesses and journalists directly involved in the incident.

WikiLeaks wants to ensure that all the leaked information it receives gets the attention it deserves. In this particular case, some of the people killed were journalists that were simply doing their jobs: putting their lives at risk in order to report on war. Iraq is a very dangerous place for journalists: from 2003- 2009, 139 journalists were killed while doing their work.

 Anak ini adalah Korban dari kekejaman Tentara Amerika di Irak

Foto ini menunjukkan Jeremy Morlock, serdadu AS berusia 22 tahun, sedang tersenyum di samping jenazah Gul Mudin, anak seorang petani yang baru saja dia bunuh. 
Peristiwa itu terjadi pada 15 Januari 2010.


1.foto korban tak dikenal, seperti juga dengan kepala orang terpenggal yang tampak di foto di atas. Di dalam banyak foto, tidak jelas apakah korban adalah warga sipil atau anggota Taliban. 
2.seperti yang terlihat pada foto di atas, salah satu dari mereka mengeluarkan pisau berburu lalu menikamkannya ke mayat tersebut. 




SEATTLE - Seorang personil angkatan darat yang menjadi tersangka utama teror terhadap warga sipil Afghanistan tak bersenjata telah mengaku bersalah, ujar pengacaranya, Kamis (24/2/2011). Tentara Spesialis, Jeremy Morlock, telah menandatangani dokumen yang menyatakan niatnya untuk mengaku bersalah atas tiga tuduhan pembunuhan berencana dan kejahatan lainnya di pengadilan militer di Pangkalan Militer Gabungan, Lewis-McChord, dekat Tacoma, Washington. Morlock (22) dari Wasilla, Alaska, menghadapi vonis 24 tahun penjara akibat dari kekejian yang dilakukannya di Afghanistan.

Ia menyatakan mau kembali bersaksi dalam kasus tentara lainnya dalam Brigade Stryker terkait dengan kekejaman militer AS di Afghanistan sejak perang di sana dimulai pada akhir 2001. Salah satu pengacara sipil Morlock, Geoffrey Nathan, mengatakan kesepakatan pembelaan ini menghabiskan waktu lima bulan untuk bernegosiasi. Morlock adalah salah satu dari lima tentara yang didakwa dengan pembunuhan atas kematian tiga warga Afghanistan. Morlock adalah tangan tangan pemimpin pleton, Staf Sersan Calvin Gibbs.

Gibbs dan Morlock serta beberapa tentara lainnya juga mengumpulkan jari dari mayat warga Afghanistan sebagai kenang-kenangan. Pengadilan telah menyita puluhan foto yang berhubungan dengan insiden tersebut sebagai bukti, beberapa di antaranya adalah foto yang menunjukkan bahwa tentara-tentara biadab itu berpose dengan mayat Afghanistan. Selain tuduhan pembunuhan, Morlock pun mengaku bersalah karena bersekongkol untuk melakukan pembunuhan, bersekongkol untuk menyerang seorang rekannya sesama prajurit yang berusaha untuk menghalangi penyelidikan dan juga menggunakan ganja.(althaf/arrahmah.com)

Lihat Korban Pemerkosaan Wanita Muslimah Irak Oleh Tentara A.S.


...TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA...SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN ISI BLOG INI...

SEGARKAN MATA - 23.35
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar