;

Senin, 20 Juni 2011

Fitrah Manusia dan Perdamaian Abadi

Senin, 20 Juni 2011

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,”



(QS al-Hujurat [49]: 13).

Ketika kita mendefenisikan manusia sebagai homo sapiens, manusia bijak akan menjawab secara positif. Tapi kondisi manusia saat ini sangat jauh dari ideal. Karenanya saya ragu untuk membuat pertanyaan tentang hal ini. Menurut A.J. Toynbee, penamaan homo sapiens harus diiringi dengan kebijaksanaan, lokal dan global. Sementara dalam penelitian saya terhadap fenomena sosial yang berada di sekitar kita, baik nasional maupun internasional, memperlihatkan kurangnya kontrol diri kita dalam mengatur hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Masa Depan yang Hancur?
Jika kita berpendapat bahwa manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk lain seperti bina¬tang, maka seperti itulah masa depan yang akan kita ciptakan. Yakni masa depan yang hancur berantakan dan darah akan terus mengalir akibat dari perang yang tiada pupus. Masa depan umat manusia akan cerah dan damai jika semua bang¬sa, suku, dan penganut agama yang berbeda bisa mengen¬da¬likan diri serta tidak terjerumus da¬lam kemarahan, egoisme dan kesom¬bongan. Hanya dengan kemam¬puan mengen-da¬likan diri-lah perjalanan me¬nu¬ju mar¬ta¬bat manusia akan sampai pada tujuan¬¬¬nya.
Kita sering mendengar istilah “Kemanusiaan itu satu”. Penyataan ini tentu sekali benar jika kita lihat dari aspek kemanusiaan. Sayang sekali jika kita lihat dalam persaudaraan dan solidaritas sesama manusia, persatuan itu tidak pernah ada. Perbedaan ras, konflik, perang, kebencian antarsuku, dan bangsa. Semuanya masih merupakan masalah yang berat sampai hari ini. Tak satu pun bangsa atau negara yang terlepas dari ma¬salah krisis kemanusiaan ini.
Persatuan dan persaudaraan umat manusia adalah suatu harapan masa depan, bukan se¬jarah, karena manusia sampai hari ini tidak jemu-jemu menumpahkan darah sesamanya. Padahal Allah menciptakan manusia berbeda suku dan bangsa untuk saling mengenal bukan, ber¬mu¬suhan. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS al-Hujurat [49]: 13).


Hegel menyatakan bahwa, “masa depan adalah objek dan tak ada yang bisa mem¬pre¬dik¬sikannya, ia merupakan harapan dan ke¬ta¬kutan; sementara harapan dan ketakutan bu¬kanlah sejarah.” Apa yang terjadi di Lebanon, Palestina, Irak dan Afghanistan menunjukkan bahwa kebencian antarras, ketamakan dan ke¬sombongan masih lekat dengan kita. Kita ma¬sih belum mampu untuk menepis ego dan kesombongan saat kita berhubungan deng¬an orang lain. Sepertinya kita menyatakan, “Ikuti kami atau perangi kami.” Pernyataan ini me¬nunjukkan betapa sulitnya bagi manusia untuk memiliki sifat toleransi dan perbedaan pan¬dangan dalam demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi sudah menjadi komoditas baru bagi kepentingan neo-imperialis.

Menata Perdamaian
Bagaimanapun, saya sangat setuju sekali bahwa harapan manusia harus ditemukan deng¬an menggali hakikat manusia itu sen¬diri (dalam bahasa Arab disebut fitrah) yang akan menye¬la¬matkan manusia dari berbagai pepe¬ra¬¬ngan. Keseriusan, ketulusan dan usa¬ha yang tak kenal lelah, akan mewu¬judkan perdamaian, peradaban dan keadi¬lan bagi semua, tanpa melihat ras, agama dan latar belakang geo-politik. Sebaliknya, kondisi dunia yang terpecah seperti saat ini akan terus melukai kemanusiaan. Sampai kapan? Sampai datangnya kebijaksanaan.


Mari kita lihat bagaimana pandangan Mus¬lim mengenai hal ini. Berdasarkan prespektif al-Qur’an, manusia merupakan satu komunitas (ummatan wâhidah), kemudian mereka saling ber¬beda pendapat. “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu,” (QS Yunus [10]: 19).


Perbedaan inilah yang membawa konflik dan perang, bukan hanya antara suku dan bangsa-bangsa, bahkan sesama suku, agama dan bangsa sendiri. Misalnya komunitas Islam, pada masa nabi tidak ada istilah Sunni, Syi’ah, dan Khawarij. Istilah itu baru muncul setelah perang Shiffin pada tahun 657 H. Perang antara mereka sering terjadi, padahal dalam Alquran Allah menyatakan bahwa umat Islam adalah ber¬sau¬dara serta memerintahkan untuk mendamaikan saudara mereka yang bertikai.“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat,” (QS al-Hujurat [49]: 10).


Dalam sebuah hadits dinyatakan eratnya persaudaraan umat Islam ini diibaratkan dengan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh terluka, yang lain juga merasakan rasa sakit. Jika umat Islam memahami ajaran mereka dan tidak menge¬¬¬¬depankan egoisme dan kesombongan, maka perang antarumat Islam tidak akan terjadi. Tapi rupanya realitas berbicara lain. Apa yang terjadi di Irak hari ini adalah bukti adanya rasa permusuhan di tubuh Muslim. Mereka masih hidup dalam ketidakpercayaan antara satu dengan lainnya. Invasi AS ke Irak hanya menjadi pemicu konflik di antara komu¬nitas Muslim di sana sehingga menjadi lebih buruk. Konflik seperti ini juga terjadi pada ko-munitas agama lain, tapi saya tidak berkapasitas untuk menyampaikan tentang hal itu.


Sampai kapan semua ini akan berakhir? Tidak ada yang tahu pasti jawabannya. Manusia adalah makhluk yang sempurna, mereka bisa mengontrol lingkungan mereka secara efisien dan efektif, tapi mereka gagal mengontrol diri mereka sendiri. Hal ini telah terjadi dalam sejarah manusia selama ribuan tahun. Abad 21 telah berjalan selama 6 tahun. Ketegangan antara idealisme dan kenyataan terus terjadi, mungkin akan berakhir pada Hari Kiamat.


Seperti roda yang berputar, dunia yang kita tinggali saat ini masih terkotak-kotak, sudah saatnya para filosof, pemimpin agama, orang-orang terpelajar, serta semua orang yang peduli pada perdamaian di planet bumi ini melakukan usaha-usaha penting untuk menyelamatkan masa depan umat manusia. Tak seorang pun berhak memonopoli kebenaran. Planet ini milik kita ber¬sama. Tak satu pun bangsa atau negara yang berhak untuk menguasai atau menjajah orang lain, baik dengan dalih demokrasi maupun hak asasi. Di hadapan Tuhan dan sejarah kita adalah sama. Harus banyak forum yang memikirkan dan melakukan gerakan ke arah ini. Akhirnya kita harus mengucapkan Selamat Tinggal pada kebencian antarsuku dan kesombongan rasial. Dengan ini, kita akan memiliki harapan per¬damaian di masa depan. Wallahu a’lam bis shawab.

Disarikan dari makalah pada World Peace Forum
Agustus 2006 di Jakarta





...TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA...SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN ISI BLOG INI...

SEGARKAN MATA - 23.53
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar