;

Rabu, 09 Mei 2012

Alasan Islam Memperbolehkan Pria Menikahi Wanita Lebih dari 1 menurut rasio nya

Rabu, 09 Mei 2012


13309275541831100371

S

elama ini, banyak di antara kita yang menggunakan rasio-rasio perbandingan wanita vs pria untuk alasan-alasan berkaitan dengan fenomena poligami. Sebagai contoh :
Rasio-rasio pendukung poligami, antara lain :
1. Jumlah pria : wanita (wanita lebih banyak)
2. Nafsu seks pria : wanita (nafsu pria lebih besar)
3. Kemampuan reproduksi pria : wanita (wanita menopause, pria tidak)
4. Posisi pria : wanita (wanita pengikut, pria pemimpin)
Akan tetapi mari kita lihat, apakah demikian itu benar adanya?
1. Rasio Jumlah Pria : Wanita
Adalah benar bahwa jumlah pria memang lebih sedikit daripada wanita. Bahkan, ini adalah alasan paling umum untuk berpoligami baik itu tersembunyi di balik ‘Kasihan, wanita yang ga punya jodoh!‘ hingga dalil-dalil untuk membenarkan apa yang diyakininya. Eits, tapi tunggu dulu, kenyataannya bila dilihat sekilas, jumlah wanita memang lebih banyak dari seorang pria, akan tetapi bila kita mengacu pada tabel berikut ini,
Jumlah Laki-Laki untuk Setiap 100 Perempuan
Kelompok Usia
Laki-Laki
Perempuan
Bayi
106
100
Kanak-Kanak
103
100
Remaja
100
100
Setengah Umur
85
100
Tua
50
100
Lebih dari 100 tahun
20
100
(Suryo : 190)
Maka dapat kita simpulkan bahwa bagi mereka yang mengusung alasan poligami atas dasar rasio jumlah, akan lebih rasional untuk menikahi wanita di atas 100 tahun, dimana pada usia itu, 1 laki-laki sebanding dengan 5 wanita! :D Selamat mencoba!
2. Nafsu seks pria : wanita
Salah satu situs yang saya jadikan referensi (lihat bawah) menyatakan bahwa pria memang memiliki dorongan yang lebih besar untuk bercinta. Akan tetapi mereka ‘lebih cepat panas’ sedangkan wanita jauh lebih lambat.
Apa yang bisa kita simpulkan? Yup, bisa dikatakan dengan sederhana seperti ini : pria lebih cepat ‘panas’ daripada seorang wanita. Lalu, apakah ini merupakan lampu hijau sebagai alasan biologis pelaksanaan poligami? Oo, tidak bisa! Justru kalau perbandingan tersebut dijadikan alasan, maka poliandri akan berdiri gagah mengangkangi poligami :D
3. Kemampuan Reproduksi Pria : Wanita
Harus kita akui, Mr. Poligami akan tertawa terbahak menyadari fenomena ini. Masalahnya terletak pada kemampuan reproduksi pria yang jauh lebih ‘tahan’ daripada wanita. Jadi bila suami anda berkata :
Suami :”Saya izin poligami ya, Bu, Ibu kan sudah menopause!”
Istri :”Bapak mau poligami sama siapa? Menurut rasio perbandingan jumlah wanita : pria , Bapak harus nikah sama nenek tua, karena disitulah wanita berlimpah-ruah! Sedangkan wanita umur segitu pastinya sudah menopause juga!”
Suami :”Tapikan benihku jadi sia-sia Bu!”
Istri :”Begini ya Pak, masalahnya bukan itu saja! Menurut rasio perbandingan jumlah manusia : area tanah, semakin lama-bumi kita semakin padat! Nah, kalau benih-benihmu itu terus kau sebar-sebar, mau kau kemanakan benihmu itu? Mau kau antar langsung ke kubur? Kuburan saja hari ini makin sempit, Pak!”
Suami :”#$@!*&!!”
4. Posisi Pria : Wanita
Secara pribadi, menurut saya, argumen terakhir ini dalam konteks sosial sudah semakin luntur dan selain itu yang paling (maaf) tidak relevan. Kenapa tidak relevan? Karena, coba jawab pertanyaan berikut ini :
Korelasi apa, berkaitan dengan posisi laki-laki yang dianggap sebagai pemimpin, yang dapat melegalkannya untuk menjadi poligamer?
Alasan mencari sebanyak-banyaknya pengikut?
Sound familiar, huh? Mungkin anda sering menemui baunya di media massa? Ketika partai politik dan sebangsanya mulai membidik suara? Vulgar? Begitulah!
Sebagai pemimpin (maaf sebelumnya bukan maksud saya untuk membebani para lelaki dengan tanggungan menjadi pemimpin, tapi saya sedang bermain generalisasi disini, dan konteks saya adalah masyarakat Indonesia pada umumnya, yang tidak bisa dipungkiri, sebagian besar bersifat patriarkis) pria seharusnya lebih bijak dalam melihat segala hal. Menjadi pemimpin bukan berarti anda menguasai sesuatu seperti pemimpin yang kita kutuk selama ini, menjadi pemimpin berarti bijaksana. Apakah keputusan untuk poligami bijak dilihat dari berbagai sudut pandang? Dari kesimpulan dan sudut pandang saya, tidak. Tapi ini tidak menutup kemungkinan yang lain (saya jelas bisa salah juga).
Akhir kata, poligamilah yang mau poligami! Poliandri lah yang mau poliandri! Dan berbahagialah tanpa membuat sedih orang lain. J
Ref : Suryo. 2008. Genetika Manusia. Yogyakarta : UGM Press
www.gallerydunia.com diakses pada Minggu, 04 Maret 2012
www.detik.com diakses pada Minggu, 04 Maret 2012


...TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA...SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN ISI BLOG INI...

SEGARKAN MATA - 23.39
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar