;

Rabu, 09 Mei 2012

Cerpen - Bahtera Tiga Nahkoda

Rabu, 09 Mei 2012


Bagaimana aku membayangkan aku seorang anak, yang lapang menerima Ibu yang berani memadu dirinya sendiri.
Bagaimana mataku berkaca, diiring lautan Afasy…

(24 April 2011, 04:28 PM. Terima kasih, Zahro. Diam pun, kau memahamiku)
***

Badanku masih seperti sehari sebelumnya. Orang bilang seperti itu, demam. Tak enak beraktivitas, hanya merebah di atas karpet yang tebalnya tak lebih dari 2 cm. Belum tengah hari memang. Setengah mengusik, HP ku berbunyi. Telepon dari… Subhanallah, tahukah Ummi kalau aku sedang sakit? Senyumku mengembang menjawab salam Ummi dari seberang sana. Ditanya kabar pun, dengan sumringah ku jawab ‘sehat Alhamdulillah… Cuma perlu istirahat karena sedikit tidak enak badan’. Ya, karena aku pun tak ingin Ummi khawatir kalau aku bilang sakit.

Bincangku tak lama, sebelum kemudian aku sadar, ada yang berbeda dari nada bicara Ummi. Lebih pelan dari biasanya. Sebait, dua bait aku dan Ummi menyusun sajak rindu seorang anak kepada Ibunya, pun seorang Ibu kepada putrinya. Berbagi kabar, berbagi nasihat, sampai pada detik mataku basah… Pertanyaan Ummi benar-benar membuatku terdiam pilu.

“… Alhamdulillah Ummi sudah mengkhitbah Ustadzah Riana untuk Abi, dan tanggal 21 April kemarin akad nikah…”.

Mataku semakin basah. Sesakku tertahan. Entah, tasbihku dalam hati jujur atau tidak, aku tidak tahu. 21 April kemarin? Belum lama… Tepat hari Kartini pula.

“Nisa sayang, Ummi hanya ingin ridha Allah saja, nggak ada maksud lain. Abi dan Ustadzah Riana juga sebelumnya tidak ada hubungan apa-apa. Keduanya bersih. Ini semua murni keinginan Ummi setelah banyak berdiskusi dengan beberapa ustadz”.

“… Jangan sampai kita ada rasa takut kehilangan cinta, Nisa. Sebab semakin banyak orang yang bisa kita beri cinta, akan selalu bertambah rasa cinta yang kita miliki. Jadi ini semua sama sekali tidak mengurangi rasa cinta siapapun, justru semakin bertambah. Semuanya hanya karena Allah…”
Aku masih terisak, tanpa suara.

“… Dan Ummi semakin cinta dengan Abi…”
“Do’akan Ummi ya, Nisa sayang, do’akan kita semua bisa terus berkumpul sebagai keluarga sampai di Surga Allah nanti…”

Aku tahu. Di sana Ummi sambil tersenyum bercerita. Nada bicaranya, penuh bahagia. Ya Rabb… Lidahku kelu. Bibirku semakin bergetar. Belum satu pun dari pertanyaan Ummi yang ku jawab. Tentang bagaimana kesediaanku menerima Ustadzah Riana sebagai Ibu juga untukku, tentang keikhlasan memperkuat keyakinan bahwa Allah pasti meridhai apapun yang dilakukan hamba-Nya selama tidak bertentangan dengan syari’at-Nya. Tentang…
Ku hela nafas panjang. Meski terbata, hampir tak bersuara.

“… Nisa bangga jadi anak Ummi…”
Hanya itu. Hanya itu yang mampu keluar dari lisanku. Tak banyak. Sebab selebihnya hanya bulir air mata yang kian membanjir. Sebab selebihnya hanya keringat yang kian mengucur deras. Sebab selebihnya hanya degup jantung yang semakin kencang. Sebab selebihnya… Hanya rindu yang kian membuncah ingin segera pulang ke rumah.

Menuju terik tengah hari. Di benakku masih jelas berkelebat sosok Ummi, Abi… dan satu lagi. Sedikit ku paksa berhenti menangis, tenang ku dengar adzan Zhuhur berkumandang. Shalat. Aku ingin segera tidur siang.

***

Perkenalan yang cukup lama, kurang lebih 7 tahun. Akrab selayak sahabat sejati, namun usia Ummi 10 tahun lebih dewasa (aku tak ingin menyebutnya 1ebih tua ^^). Bagaimana cerita awal jumpa Ummi dengan Ustadzah Riana, biarlah aku tidak tahu. Aku hanya ingat betul pertama kali aku kenal dengan ‘Ibu baru’ku itu waktu masih SMA. Beliau sering datang ke rumah untuk koordinasi proyek pendirian sekolah terpadu, ataupun sekedar silaturahim. Mungkin Ummi sudah menganggap Ustadzah Riana seperti adiknya sendiri. Mungkin.

Lalu seingatku, semua berjalan berirama. Mengalun simfoni kehidupan dalam keluarga. Sampai pada suatu ketika, bertahun dahulu.

“Nisa, kalau misalnya Abi menikah lagi bagaimana?”, tanya Ummi.
“Ya nggak apa-apa, Mi. Kan yang penting semuanya saling ridha…”
Ahh… Polosnya jawabanku itu.

Aku tersenyum kecil. Lucu. Sebab skenario kali ini jelas berbeda. Oh, jadi ini toh kenyataannya. Batinku. Bukan Abi yang meminta izin apalagi terbersit pikiran untuk menikah lagi, tetapi Ummi yang mengkhitbahkan seorang wanita untuk Abi. Lalu Abi ridha, dan Ummi semakin cinta. Allahu Akbar… Benarkah aku terlahir dari rahimnya?
Hening.

Masih hening. Hanya gelapnya hati yang bersuara. Mencoba menyibak setiap sudutnya. Semoga ada celah untukku keluar mengepak sayap. Ingin, hari ini dan seterusnya aku bebas. Sebab Allah telah bentangkan langit untuk ku menatap setiap kali hidup terasa sesak. Tak ada yang sia-sia apa yang telah Allah hadirkan dalam kehidupan hamba-Nya. Lalu apa yang terkadang membuat diri ini tak bersyukur, ya? Allah telah menghadirkannya, seseorang yang akhirnya kami –aku dan keempat saudaraku- panggil dengan sebutan Bunda. Bukankah menjadi bertambah orang yang mencurahkan kasih sayang untukku, kakak, juga ketiga adik-adikku? Oia, aku ingat sesuatu. Di sela-sela aku dan Ummi ngobrol suatu hari, Ummi pernah meyakinkanku begini,

“… Insya Allah, Bunda itu istri terakhirnya Abi. Karena Ummi kan istri ketiga…”
Aku tertawa kecil. Lalu?

“Istri pertama dan keduanya Abi itu dakwah…” Lanjut Ummi.
Ahh… Ummi memang juara satu sedunia. Dalam hati aku malu. Belum sempurna baktiku hingga dewasa ini.
***
Detik itu, 21 April 2011. Sebenar-benar hari Kartini. Bagiku, Kartini sejati.
Kini, setahun sudah bahtera tiga nahkoda berlayar di atas samudera semesta. Takdir-Nya telah menyempurnakan cinta.
 
NiswahtangguhJudul Cerpen  : Bahtera Tiga Nahkoda
Di kirim Oleh : Niswahtangguh









...TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA...SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN ISI BLOG INI...

SEGARKAN MATA - 22.57
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar