;

Rabu, 16 Mei 2012

Jangan Berhubungan Seksual Karena Terpaksa!

Rabu, 16 Mei 2012

Femina Seks
Apa, sih, buktinya kalau pasangan Anda cinta pada Anda? Setia pada Anda dan menjadikan Anda satu-satunya partner untuk urusan seks? Boleh saja, kalau itu menurut Anda. Tapi, bukan berarti, sebagai timbal balik, Anda rela kapan saja melayaninya, bahkan ketika Anda sebenarnya sedang tak ingin. Anda bukan objek, Anda punya hak untuk berkata, “Jangan sekarang, Sayang….”

Menurut psikolog dari Universitas Tarumanegara, Monty Satiadarma, pemaksaan kehendak atas diri orang lain adalah bentuk objektivikasi yang bersifat nonhumanis. “Masalah ini merupakan masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan bisa dikaitkan dengan masalah hukum,” tegasnya.                                        
Senada dengan itu, sebuah situs di Australia, ReachOut.com, yang menangani berbagai problem psikologis juga menyebutkan, “Anda harus tahu bahwa pasangan Anda yang membuat Anda tidak bahagia dan nyaman melakukan hubungan seksual, sebenarnya telah melakukan tindakan hukum dengan tidak meminta ‘izin’ terlebih dahulu.” Inilah yang disebut dengan sex consent, bahwa hubungan seks dengan pasangan sekalipun harus diawali dengan agreement. Dia mau, Anda pun mau.

Dengar pula apa yang dikatakan Barnaby Barrat, Ph.D., President of the American Association of Sex Educator, Counselor and Therapist. Sebelum pria melakukannya, tanya pasangan apakah ia bersedia. “It gives the woman sense of respect. It gives the woman the security to become more sexually relaxed,” katanya.
   
Tindakan apa pun yang dilakukan dengan keterpaksaan cenderung menimbulkan kekecewaan dan penyesalan di kemudian hari. “Keterpaksaan merupakan tindakan menyangkal kehendak diri sendiri. Oleh karena itu, biasanya menimbulkan konflik berkepanjangan, dan merupakan bentuk stres yang secara bertahap akan mengalami peningkatan,” papar Monty.                    

Jika seorang individu, baik pria ataupun wanita, menolak berhubungan seks, biasanya ada masalah lain yang mendasarinya. “Masalah lain itu adalah perasaan tidak terlayani, tidak diperhatikan, merasa diabaikan, ditelantarkan, atau karena mengalami problem seks,” jelasnya.                

Seks merupakan aspek penting dalam hubungan berkawinan, karena seks adalah salah satu hal yang menghadirkan ikatan fisik dalam perkawinan. Tapi, tidak selalu seks hebat itu berbanding lurus dengan keharmonisan rumah tangga. “Keharmonisan perkawinan lebih dilandasi oleh hubungan komunikasi yang baik dan keinginan untuk berbagi. Tidak sekadar dalam bentuk hubungan fisik, tetapi juga dalam bentuk hubungan emosional.”   

Sebaliknya, pemaksaan hubungan seks dari satu pihak atas pasangannya merupakan tindakan kekerasan. Dia yang terpaksa dan merasa dipaksa akan menjadi korban. Tetapi, mungkin juga akan melakukan perlawanan dalam bentuk pasif agresif, antara lain dengan membekukan emosinya dalam berhubungan seks. “Tidak ada resep khusus. Ungkapkan saja keberatan Anda dan masalah yang menghantui pikiran Anda, lalu selesaikan masalah tersebut bersama-sama,” kata Monty.


...TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA...SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN ISI BLOG INI...

SEGARKAN MATA - 00.08
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar