;

Kamis, 10 Mei 2012

Rumah Tradisional Indonesia Ditemukan Kembali di Belanda

Kamis, 10 Mei 2012

K

etika seseorang menaiki rumah seorang Padoe di masa lalu, ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Bagi yang cukup jeli, bisa melihat batasan-batasan tersebut pada beberapa ciri-ciri arsitektur yang terlihat dalam ruangan. Dari ruang depan sampai sebuah balok kayu yang dipasang melintang sepanjang badan rumah adalah area yang disebut kombia. Ini adalah area yang dapat dimasuki orang umum. Dibelakang balok tersebut, selain keluarga tidak diperkenankan masuk. Area ini disebut ulu kombia. Kemudian dibelakangnya lagi ada area dapur yang disebut tenga.
Aturan ini adalah kebijaksanaan lokal masyarakat suku Padoe di daerah Nuha (Kecamatan Wasuponda, Nuha dan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan sekarang) yang membentang dari selatan danau Matano hingga danau Towuti yang dibuat untuk memberi batas antara area pribadi dan umum serta menghindari kasus-kasus dimana sensitivitas perseorangan berpengaruh dalam pergaulan sosial. Kesadaran untuk membuat dan menghormati aturan seperti ini, adalah bagian dari kebijaksanaan masyarakat yang memahami bahwa didalam kebersamaan terdapat juga individualitas dan perlunya menjaga keseimbangannya lewat aturan-aturan yang memastikan penghormatan terhadap batas itu.

Inilah salah satu fragmen kebijaksanaan kehidupan sosial masyarakat suku Padoe yang termuat dalam arsitektur rumah. Arsitektur rumah menjadi wajah salah satu ayat aturan yang dihormati oleh semua orang. 

Mengandalkan memori lisan, sebagian besar kebijaksanaan-kebijaksanaan yang saat itu hidup dalam masyarakat hilang bersamaan dengan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Segala sesuatu yang berbau “kemajuan” diserap dengan lahap kedalam identitas kebudayaan sendiri yang akhirnya memupus semua yang dianggap lama.
Ilustrasi berikut memperlihatkan dua foto kampung Tabarano, kampung suku Padoe (sekarang masuk wilayah Kecamatan Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan) yang pertama diambil pada tahun 1911 oleh seorang berkebangsaan Jerman bernama Albert Grubauer yang melakukan perjalanan melintasi daerah Nuha waktu itu yang catatannya dibukukan dengan judul Unter Kopfjagern in Central Celebes, 1913. Foto-fotonya kemudian menjadi milik Museum Volkenkunde di Belanda dan dipajang disalah satu website dari negeri Belanda sana.

13366106851458837158
Kampung Tabarano, 1911 (Museum Volkenkunde/www.geheugenvannederland.nl)

1336610798341475022
Kampung Tabarano, 2012 (Wuala Tomaguni)

Dalam foto tua tersebut terlihat suasana perkampungan yang tertata. Selokan air di sisi jalan yang bersih dengan pagar-pagar rumah di setiap sisinya.
Rumah-rumah terlihat seragam baik posisi hadap, ukuran, dan arsitekturnya. Atap berbentuk lebih mendekati bentuk perisai dibanding pelana dengan bukaan besar pada sisi atapnya untuk ventilasi. Bentuk atap ini cukup unik untuk daerah Sulawesi pada waktu itu yang sebagian besar berupa atap pelana, yang menunjukkan adaptasi dan kemampuan rekayasa masyarakat Padoe dan mungkin serapan pengaruh luar. Bandingkan dengan rumah-rumah tradisional KarunsiE dan TambeE, dua suku yang hidup berdampingan dengan suku Padoe di daerah Nuha.

13366110541130889059
Rumah tradisional TambeE (Museum Volkenkunde/www.geheugenvannederland.nl)

1336611164953792459
Rumah tradisional KarunsiE (Museum Volkenkunde/www.geheugenvannederland.nl)

Menurut catatan Pdt. Mapa Maleta (75), dalam riwayat hidupnya menuliskan bentuk dan ciri-ciri khusus rumah tradisional masyarakat Padoe, bahwa rumah tersebut adalah rumah panggung yang bertiang dua belas dengan atap dan dinding dari daun rumbia.

Lantai rumah berketinggian kira-kira dua meter dari tanah. Lapisan lantai paling atas terbuat dari bambu jenis Balo Binasi dibelah kecil-kecil yang panjangnya sekitar 2,2 meter. Dibawahnya adalah rangka yang terbuat dari belahan kulit batang pinang, minama. Masing-masing batang pinang dibelah enam, lalu belahan-belahannya tersebut diikat berjejer menjadi lapisan kedua lantai rumah. Belahan-belahan pinang tersebut duduk pada portal kayu dalam sistem balok-kolom. Semua sambungan dan join antar elemen struktur bangunan menggunakan ikatan rotan, lauro.

Di atas bilahan-bilahan bambu tadi kemudian dibentangkan anyaman tikar, Ompeo dari daun sejenis tumbuhan yang bentuk daun-daunnya agak mirip pandan tapi lebih keras dan berduri. Daun tersebut dikeringkan lalu dianyam tanpa diwarnakan. Ompeo-ompeo tersebut berfungsi sebagai alas tidur dan duduk, yang ketika tidak digunakan digulung dan disimpan di loteng rumah, tonete.
1336611422346910529
Terlihat Ompeo, tikar (Foto: Azriel Mauritz)
Sementara pada foto kedua adalah kondisi kampung, dusun Tabarano saat ini dengan rumah-rumah yang tidak lagi memperlihatkan ciri-ciri rumah tradisional Padoe. Tidak salah, hanya saja sangat disayangkan jika rumah tradisional yang sebenarnya indah, baik dari segi arsitektur maupun dalam filosofi bangunannya yang merupakan puncak kebudayaan lokal hilang begitu saja ditelan arus jaman tanpa memberikan kesempatan apresiasi dari generasi selanjutnya.

Apresiasi dan ucapan terima kasih layak di alamatkan kepada Professor Albert Grubauer yang sempat mendokumentasi dan membukukannya pada tahhun 1911. Juga kepada museum di Belanda (baca: Museum Volkenkunde) yang memiliki dan memuat foto-foto tersebut di etalase internet untuk konsumsi publik. Foto-foto yang ditemukan di negeri Belanda tersebut adalah mata rantai ke masa lalu, ke kebudayaan yang hilang, ke kebijaksanaan yang terlupa dari masyarakat suku Padoe di Sulawesi Selatan dan Tengah.

133661193947202450
Tarian Riringgo suku Padoe oleh generasi muda (Foto: Azriel Mauritz)


...TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA...SEMOGA TIDAK BOSAN DENGAN ISI BLOG INI...

SEGARKAN MATA - 01.00
MASUKKAN TOMBOL TWEET DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar